Selagi Maria dan Yusuf menjalin percintaan yang manis, Tuti Bergelut dengan dirinya sendiri
Roman ini ditulis dalam tahhun 1930-an ketika pengarang masih muda. Penuh romantik, perjuangan dan cinta. Roman ini pernah difilmkan oleh PERFINI dibawah pimpinan Usman Ismail. Tokoh lain menghargai karya ini karena gaya bahasa yang hidup, lincah seperti air pegunungan.
Di kawasan Gunung Megang, dekat kota Palembang, tinggalah pemuda Yasin dengan ibunya. Ayahnya telah meninggal. Pada suatu hari ia berperahu ke Palembang dan bertemu pandang dengan seorang gadis jelita bernama Molek. Gadis itu putrid bangsawan di Palembang. Keduanya jatuh hati. Molek selalu teringat kegagahan Yasin, dan secara tak sadar Molek mulai suka berdandan. Begitu juga Yasin menjadi gelis…
Aduh, nasib yang ganas, yang buas, yang tak menaruh iba-kasihan! Alangkah sampai hatimu merebut apung - apung dari orang, yang baru hendak menyeberang lautan yang penuh gelora, memadamkan suluh orang yang hendak menempuh rimba yang leba dalam gelap-gulita!rnAduh, nasib yang kejam, mengapa engkau merendah yang telah rendah, mematahkan yang telah terkulai? Dunia ini penuh keajaiban dan keheranan!…